Pages

Rabu, 29 Januari 2014

Ibu... Ibu... Ibu...

Tadi malam, saya baru saja mengalami sebuah hal yang sangat memilukan sampai saya harus menitikkan air mata. Beginilah kira-kira cerita yang membuat rasa pilu itu.

Sehabis maghrib, saya mendengar kabar dari bapak saya kalau guru saya mengaji waktu kecil Mbah Isah sedang sakit. Kata bapak saya, badan Mbah Isah yang dulu gemuk berisi dan kuat sekarang tinggal tulang dan kulit. Bapak saya juga mengatakan bahwa Mbah Isah tidak bisa berjalan lagi. Mendengar hal itu, rasa sedih langsung menyelimuti saya. Masih jelas dalam ingatan saya waktu kecil dahulu bagaimana Mbah Isah mengajarkan kami membaca Iqro' dari halaman pertama sampai saya bisa membaca Al-Qur'an.Mbah Isah adalah sosok yang sangat bersemangat dan tidak pernah lelah mengajarkan kami membaca Al-Qur'an dengan tartil. Beliau juga sosok yang tegas, tak jarang kita dimarahi karena berbicara sendiri saat disuruh berlatih membaca Al-Qur'an atau saat selesai Sholat Maghrib yang harusnya digunakan untuk berdzikir. Jika sudah marah, kami langsung terdiam dan mendengarkan karena takut. Meskipun cuma sampai kelas 4 SD saya belajar mengaji dengan beliau, namun sampai sekarang saya tidak pernah lupa akan jasa-jasa beliau dan merasa bersyukur karena telah diajar oleh beliau.

Selasa, 10 Desember 2013

Gelar Pertama Musim Ini, Terima Kasih Pena Brawijaya ^_^

            
Beberapa saat yang lalu saya baru saja mengikuti lomba Pena Brawijaya kategori Cerpen yang diadakan oleh Kementrian Sosial Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya. Dan Alhamdulillah saat pengumuman yang bersamaan dengan acara talkshow  Brawijaya Mengajar dan Indonesia Mengajar, cerpen yang cuma saya buat dalam semalam itu berhasil menjadi Juara I. Sangat tidak menyangkan sebenarnya, karena saya membuat cerpen ini hanya karena kagum dengan keindahan surga bawah laut kabupaten Wakatobi di Sulawesi Tenggara yang saya saksikan lewat televisi beberapa saat yang lalu. Dengan keindahan laut yang luar biasa, ternyata penduduk asli Wakatobi masih jauh dari kata sejahtera. Melalui acara TV yang saya saksikan tersebut, masih banyak pemukiman-pemukiman kumuh di pinggir pantai Wakatobi yang biru mempesona. Karena itulah saya ingin menjadikannya sebuah tulisan dan saat mengetahui ada lomba cerpen ini, saya langsung ingin mengangkat Wakatobi sebagai isi cerpen saya. Terima kasih kepada seluruh panitia Pena Brawijaya yang telah meilih cerpen saya menjadi yang terbaikpada lomba ini. Saya sangat senang dan bersyukur. Ini adalah gelar pertama di musim ini. hahaha..

Pada artikel ini, saya ingin membagi isi cerpen tersebut saya kepada pembaca blog ini. Semoga bermanfaat dan selamat membaca... ^__^

Kamis, 26 September 2013

Jika Juara, Maka Semua Akan Berbangga

Ditulis tanggal 22 September 2013
Minggu, Pkl 24.00

JUARAA. Mungkin, untuk Negara lain dimana prestasi sepakbola menjadi hal yang biasa, tidak ada yang special dengan diraihnya sebuah piala oleh tim level junior. Terlebih, prestasi timnas junior tidak mempengaruhi ranking FIFA, maka kemenangan menjadi hal yang sudah cukup dengan diacungi jempol dan sedikit senyum saja. Level junior hanya mereka anggap sebagai waktu latihan, waktu menempa diri, mengasah skill, dan menambah jam terbang untuk mencapai goal yang sesungguhnya, yaitu piala di level senior.