Pages

Rabu, 12 Oktober 2016

Kuantitas Tidak Menentukan Kualitas

Ditulis tanggal 10 Oktober 2016



Tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga tanpa sadar sudah 3 tahun saya berada di bangku kuliah. Selama 3 tahun ini saya mengikuti beberapa organisasi dan banyak kepanitiaan. Tapi entah mengapa memasuki tahun terakhir saya menjadi mahasiswa S1 dari beberapa organisasi hanya satu organisasi yang masih nyantol sampai sekarang. Organisasi ini saya ikuti sejak semester 2 atau saat pertama kali mahasiswa baru boleh gabung di organisasi. So, saya sudah ikut organisasi ini selama 3 kepengurusan.  

Organisasi itu bernama LPM Techno, sebuah lembaga pers mahasiswa yang berada di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Masa “muda” saya yang sedikit absurd hingga khayalan tingkat tinggi saat SMA yang ingin menjadi repoter bola karena ingin masuk stadion gratis dan ngobrol sama pemainnya (seperti Ninit Kaluna dulu di ISL ANTV) membuat saya ingin masuk ke lembaga pers. Hahahah. Karena cita cita itu, dulu pas SMA pernah kepikiran masuk Ilmu Komunikasi tapi tidak dibolehin sama orang tua. Berbekal pengalaman menulis saat SMA yang dua diantaranya berhasil diterbitkan oleh majalah BOLA dan satu tulisan resensi novel tentang bola yang dapat apresiasi langsung oleh penulisnya (baca : tulisan ini ) daftarlah saya di LPM Techno waktu itu.

Kamis, 11 Agustus 2016

Finding Ilmu




I think that is a “Ilmu” look like


Few days ago, I was given a task to find 100 professors in 100 universities in Japan. Kak Ali, as my mentor said that “You must sent emails to at least 100 professors in 100 universities in Japan to get a letter of acceptance (LoA). After that, you could pray maybe one of those emails would be replied. You can’t sent email to some professors in one university, because they like make gossip when drunk.”

Minggu, 01 Mei 2016

Batik, Identitas Kultural yang Mencari Eksistensi



Kebudayaan Jawa telah menjadi perjalanan panjang kehidupan di nusantara yang bahkan memiliki jejak langkah lebih panjang daripada jejak langkah negara Indonesia sendiri. Budaya Jawa berkembang sesuai watak dan ciri khas masyarakat jawa dan melahirkan sebuah ideologi kultural. Salah satu peninggalan budaya yang dimiliki masyarakat Jawa adalah batik.
Batik sudah dikenal di nusantara sejak jaman Majapahit, dimana Kabupaten Mojokerto saat itu menjadi salah satu sentra pengembangan batik. Dalam perjalanannya, tak bisa dipungkiri bahwa batik merupakan produk budaya yang tunduk pada hukum perubahan. Batik telah mengalami berbagai macam fase perubahan sejak pertama kali diciptakan, dari yang awalnya merupakan produk sakral yang hanya bisa dipakai kalangan kerajaan sampai dengan saat ini dimana batik dapat dipakai dengan mudah oleh siapa saja yang menyukainya. Motif dan warna pada setiap jenis batik yang pada awalnya dibuat dengan pendalaman makna simbolik sekarang berubah hanya dengan berorientasi pasar.